Beranda | Artikel
Keutamaan Alhamdulillah
9 jam lalu

Keutamaan Alhamdulillah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 11 Syawal 1447 H / 31 Maret 2026 M.

Kajian Tentang Keutamaan Alhamdulillah

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ

“Dan ucapan ‘Alhamdulillah’ itu memenuhi timbangan.” (HR. Muslim)

Orang-orang yang paling berbahagia pada hari kiamat adalah Al-Hammadun, yaitu mereka yang senantiasa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala situasi. Memuji Allah melalui lisan dengan mengucap Alhamdulillah mungkin terasa mudah, namun memuji Allah dengan hati merupakan suatu tantangan, terutama saat menghadapi kesulitan.

Memuji Allah dalam Segala Keadaan

Seorang mukmin dianjurkan untuk tetap memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam keadaan senang maupun susah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan dalam hal ini. Jika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna.” (HR. Ibnu Majah)

Sebaliknya, apabila menghadapi sesuatu yang tidak disukai, beliau tetap memuji Allah dengan mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.” (HR. Ibnu Majah)

Alasan perintah untuk tetap memuji Allah dalam kesulitan adalah karena pada hakikatnya musibah, cobaan, dan ujian merupakan nikmat bagi orang yang beriman. Meskipun terasa tidak nyaman, ujian tersebut mengandung kebaikan dari sisi lain, layaknya obat pahit yang harus diminum demi kesembuhan. Seseorang terkadang harus mengonsumsi tanaman obat yang sangat pahit, seperti brotowali atau sambiloto, demi memperoleh kesehatan. Rasa pahit tersebut dinikmati dan ditahan sejenak karena adanya tujuan kebaikan bagi tubuh. Demikian pula dalam kehidupan, Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang memberikan kebaikan kepada hamba-Nya melalui jalan yang terasa pahit.

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam menjadi teladan nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan beliau dari fitnah wanita bangsawan dengan menetapkan beliau berada di penjara bawah tanah selama sembilan tahun. Kepahitan penjara tersebut merupakan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kesucian beliau. Dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya seseorang diuji dengan rezeki yang sempit. Meski terasa pahit, bisa jadi itu adalah cara Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari fitnah dunia dan api neraka. Hal ini selaras dengan atsar dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu yang menyebutkan bahwa apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, Allah memerintahkan malaikat untuk menyempitkan rezekinya. Sebab, jika rezekinya diluaskan, hal itu justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka. 

Memuji Allah dalam Setiap Keadaan

Keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa terpuji dalam setiap perbuatan-Nya merupakan tingkatan iman yang tinggi. Saat melihat seseorang terlahir dengan keterbatasan fisik, akal manusia mungkin mempertanyakan keadilan. Namun, orang yang beriman yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Terpuji dalam ciptaan-Nya. Boleh jadi kesempurnaan fisik justru akan membawa keburukan bagi hamba tersebut. Hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui hikmah di balik setiap takdir.

Ucapan Alhamdulillah yang keluar dari hati yang yakin merupakan tanda kekuatan iman. 

Hamdalah sebagai Pembuka Al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka kitab suci Al-Qur’an dengan pujian kepada diri-Nya sendiri. Menurut pendapat jumhur ulama, ayat pertama dalam surah Al-Fatihah adalah kalimat hamdalah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah[1]: 2)

Penggunaan kalimat ini sebagai pembuka sangatlah tepat karena seluruh isi Al-Qur’an adalah kebaikan yang menakjubkan bagi akal manusia. Selain surah Al-Fatihah, terdapat beberapa surah lain yang juga dimulai dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya surah Al-An’am dan surah Al-Kahfi. Dalam surah Al-An’am, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang.” (QS. Al-An’am[6]: 1)

Penciptaan langit dan bumi merupakan bukti nyata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Terpuji. Manusia diperintahkan untuk merenungkan keagungan ciptaan-Nya tersebut melalui pengamatan yang mendalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا

“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia’.” (QS. Ali Imran[3]: 191)

Segala sesuatu yang ada di alam semesta, mulai dari planet-planet seperti Jupiter, Merkurius, dan Mars, hingga makhluk kecil yang tampak menjijikkan seperti lalat, nyamuk, dan ulat, diciptakan dengan hikmah tertentu. Meskipun ilmu manusia sangat terbatas untuk memahami seluruh manfaatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji diri-Nya atas penciptaan tersebut. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang.” (QS. Al-An’am[6]: 1)

Keagungan Al-Qur’an yang Lurus

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memuji diri-Nya atas diturunkannya Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna tanpa ada kebengkokan atau kesesatan di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوجًا

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” (QS. Al-Kahfi[18]: 1)

Tidak ada kebatilan dalam Al-Qur’an dari awal hingga akhir ayatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tantangan kepada kaum musyrikin Quraisy dan para ahli sastra untuk membuat satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur’an, namun hingga detik ini tidak ada satupun yang mampu menjawab tantangan tersebut. 

Kekuasaan Allah Atas Seluruh Alam dan Malaikat

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kepemilikan mutlak-Nya atas langit dan bumi. Berbeda dengan manusia yang kepemilikannya bersifat titipan, kepemilikan Allah ‘Azza wa Jalla berdiri sendiri dan abadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat.” (QS. Saba[34]: 1)

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji diri-Nya sebagai pencipta para malaikat yang bertugas sebagai utusan-Nya. Malaikat diciptakan dengan sayap-sayap yang jumlahnya sesuai dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fatir[35]: 1)

Sebagai contoh keagungan ciptaan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki 600 sayap. Ukuran Malaikat Jibril sangat besar hingga menutup seluruh ufuk timur dan barat. 

Malaikat Jibril memiliki 600 sayap, sebuah ciptaan yang menunjukkan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji diri-Nya yang telah menciptakan para malaikat, sebab mereka adalah makhluk mulia yang tidak pernah berbuat maksiat sedikit pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka awal penciptaan alam semesta dengan pujian sebagaimana firman-Nya:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang.” (QS. Al-An’am[6]: 1)

Tidak hanya membuka penciptaan dengan pujian, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menutup urusan makhluk-Nya dengan pujian. Setelah seluruh urusan hari kiamat selesai, penduduk surga telah menetap di surga dan penduduk neraka telah masuk ke neraka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Rabb–nya; dan diberikan keputusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam’.” (QS. Az-Zumar[39]: 75)

Hamdalah sebagai Ucapan Penduduk Surga

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju surga yang penuh kenikmatan. Di sana, seruan dan aktivitas mereka senantiasa diwarnai dengan pujian kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan keadaan mereka:

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Doa mereka di dalamnya ialah: ‘Subhanakallahumma’ (Maha Suci Engkau, ya Allah), dan salam penghormatan mereka ialah: ‘Salam’ (sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah: ‘Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin’ (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam).” (QS. Yunus[10]: 10)

Penduduk surga menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan mereka meraih kenikmatan tersebut semata-mata karena hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf[7]: 43)

Mensyukuri Nikmat Hidayah

Pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bentuk syukur atas nikmat hidayah iman yang luar biasa. Kemampuan seorang hamba untuk melaksanakan shalat, menjalankan puasa Ramadhan, dan melakukan ketaatan lainnya adalah anugerah yang harus disyukuri dengan ucapan Alhamdulillah

Banyak orang yang merasa berat dan bermalas-malasan dalam mendirikan shalat maupun menjalankan puasa Ramadan. Kekuatan iman dan kemampuan untuk beribadah merupakan pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luar biasa. Kenikmatan iman tidak dapat dibandingkan dengan harta benda atau materi apa pun di dunia ini. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik di awal maupun di akhir, serta di dunia maupun di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ ۖ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Dan Dialah Allah, tidak ada Illah yang berhak disembah selain Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashash[28]: 70)

Hamdalah dalam Rangkaian Shalat

Setiap hamba senantiasa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam shalatnya. Dimulai dari membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin dalam surah Al-Fatihah, hingga dalam gerakan rukuk dan sujud dengan membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha Suci Engkau ya Allah, Rabb kami, dan dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah dosaku.” (HR. Bukhari)

Demikian pula saat bangkit dari rukuk (i’tidal), seorang hamba berucap Sami’allahu liman hamidah yang dilanjutkan dengan pujian:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

“Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu.” (HR. Muslim)

Hikmah di Balik Penciptaan Makhluk

Dalil-dalil syariat menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Terpuji dalam setiap penciptaan dan perintah-Nya. Meskipun manusia terkadang merasa terganggu oleh kehadiran makhluk kecil seperti nyamuk, terdapat teknologi dan hikmah yang sangat canggih di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 26)

Nyamuk dibekali kemampuan luar biasa, seperti zat anestesi alami dan alat penghisap yang sangat presisi. Makhluk ini mampu mendeteksi aliran darah manusia dalam kegelapan dengan akurasi yang tidak dapat ditandingi oleh teknologi manusia mana pun. Ketidakmampuan para ahli untuk menciptakan makhluk serupa membuktikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Terpuji dalam setiap ciptaan-Nya, meskipun pengetahuan manusia mengenai hikmah tersebut sangatlah terbatas.

Kesempurnaan Perintah dan Larangan Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga Maha Terpuji dalam setiap perintah dan larangan-Nya. Segala bentuk ibadah yang diwajibkan, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, mengandung kebaikan yang mendalam bagi manusia. Begitu pula dengan larangan-larangan-Nya, seperti larangan mencuri dan berzina, yang bertujuan untuk menjaga kemaslahatan hidup manusia. 

Seseorang yang menggunakan akal pikirannya dengan cerdas akan menyadari betapa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Terpuji dalam setiap larangan-Nya. Berbeda dengan individu yang hanya memperturutkan syahwat serta urusan perut, mereka cenderung menganggap perintah dan larangan agama sebagai beban yang berat. Padahal, setiap syariat yang diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla mengandung maslahat yang luar biasa bagi kehidupan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji diri-Nya sendiri dalam proses penciptaan alam semesta dari awal hingga akhir, dalam setiap perintah dan syariat-Nya, serta dalam kedudukan-Nya sebagai pemilik alam semesta.

Kesempurnaan Sifat dan Keesaan Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji diri-Nya atas keesaan dalam uluhiyah (hak untuk disembah) serta atas kesempurnaan sifat-sifat-Nya yang tidak menyerupai makhluk. Salah satu bentuk pujian tersebut adalah penegasan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak memiliki anak dan tidak membutuhkan sekutu dalam mengelola kerajaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya’.” (QS. Al-Isra[17]: 111)

Manusia membutuhkan keturunan untuk proses regenerasi karena manusia akan mengalami kematian. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang Maha Hidup dan Abadi (Hayyun Qayyum). Allah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, yang menunjukkan kesempurnaan sifat kemandirian-Nya.

Sifat Al-Qayyum dalam Mengatur Alam Semesta

Keyakinan kaum musyrikin yang menganggap Allah memiliki pembantu atau sekutu, seperti anggapan adanya wali yang turut mengatur alam, merupakan syirik akbar. Allah Subhanahu wa Ta’ala bersendirian dalam menciptakan dan mengatur langit serta bumi. Sebagai Dzat yang bersifat Al-Qayyum, Allah mengurus seluruh makhluk-Nya mulai dari malaikat hingga manusia tanpa bantuan siapa pun.

Meskipun tugas mengatur alam semesta sangat luas, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah merasa lelah atau terbebani. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)

Berbeda dengan manusia yang membutuhkan banyak bantuan untuk mengelola sebuah bangunan besar, Allah ‘Azza wa Jalla mengelola seluruh jagat raya dengan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mandiri dan tidak membutuhkan pertolongan dari makhluk-Nya

Mengurus manusia yang lemah merupakan hal yang melelahkan, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga langit dan bumi yang sangat luas tanpa sedikit pun merasa lelah. Hal ini menunjukkan kesempurnaan sifat Qayyumiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memuji diri-Nya atas ketinggian dan kebesaran-Nya sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Maka milik Allah lah pujian, Rabb nya bumi bahkan Rabb nya semesta alam. Dan milik Allah lah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Jatsiyah[45]: 36-37)

Segala pujian di langit dan di bumi, baik di dunia maupun di akhirat, adalah milik Allah ‘Azza wa Jalla. Pujian tersebut mengalir di seluruh alam semesta, baik di alam atas maupun alam bawah. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengingatkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an mengenai keberagaman sebab mengapa Dia Maha Terpuji.

Hakikat Kesempurnaan Mutlak

Pujian yang Allah tujukan kepada diri-Nya sendiri merupakan bukti bahwa Dialah pemilik kesempurnaan. Sesuatu tidak mungkin dipuji kecuali jika memiliki sifat sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna dalam kehidupan-Nya, ilmu-Nya, serta kekuasaan-Nya (Kudrah). Berbeda dengan manusia, sehebat apa pun pencapaian seseorang, kesempurnaannya bersifat relatif. Sebaliknya, kesempurnaan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat mutlak.

Kesadaran akan sifat Allah yang Maha Terpuji mengharuskan seorang mukmin untuk senantiasa berprasangka baik (husnudzon) kepada-Nya. Pemahaman ini juga memiliki konsekuensi agar seorang hamba selalu rida terhadap segala ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun takdir tersebut terasa pahit, seorang mukmin tetap memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala karena meyakini ada hikmah di baliknya.

Makna Rabbul Alamin

Di antara ayat yang mengumpulkan berbagai sebab pujian adalah kalimat:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah[1]: 2)

Istilah Al-Alamin merujuk pada segala sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penjelasan mengenai makna Al-Alamin ini juga ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menafsirkan bahwa Dialah Penguasa tunggal atas seluruh ciptaan tanpa terkecuali. Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menciptakan, mengatur, dan memelihara seluruh alam semesta dengan kesempurnaan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hakikat kekuasaan-Nya atas semesta melalui firman-Nya mengenai definisi Rabbul ‘Alamin. Segala sesuatu yang ada di langit, di bumi, dan di antara keduanya, termasuk manusia, merupakan bagian dari alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا

“Firaun bertanya: ‘Siapakah Tuhan semesta alam itu?’ (Musa) menjawab: ‘Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya’.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 23-24)

Fenomena saat ini menunjukkan banyak pihak yang menisbatkan keajaiban alam hanya kepada “semesta” tanpa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu upaya penolakan terhadap kebenaran Al-Qur’an adalah melalui teori evolusi yang mengklaim manusia berasal dari kera. Padahal, Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa manusia pertama yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Nabi Adam. Upaya pembuktian ilmiah melalui fosil-fosil tertentu sering kali diragukan keabsahannya, terutama jika bertentangan dengan wahyu yang diturunkan oleh Pencipta langit dan bumi. Sebagai orang yang beriman, kepercayaan sepenuhnya harus diberikan kepada Al-Qur’an dan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri, sebagaimana bunga yang indah tidak pernah merasa menciptakan keindahannya. Alam semesta beserta isinya adalah bukti keberadaan Sang Pencipta. Allah Subhanahu wa Ta’ala menantang logika manusia melalui firman-Nya:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi?” (QS. Ath-Thur[52]: 35-36)

Kemungkinan yang ada hanyalah satu, yaitu manusia dan seluruh jagat raya diciptakan oleh Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. 

Hidayah sebagai Rezeki Terbesar

Di antara ayat yang menyebutkan sebab pujian secara terperinci adalah ucapan penduduk surga saat mereka telah menetap di dalamnya. Mereka bersyukur atas nikmat hidayah yang telah membimbing mereka menuju keselamatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

“Dan mereka (penduduk surga) berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk’.” (QS. Al-A’raf[7]: 43)

Hidayah merupakan pemberian terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seorang hamba. Sering kali manusia salah dalam memahami hakikat rezeki dengan hanya membatasinya pada uang, rumah, atau kendaraan. Padahal, rezeki berupa materi tersebut sangat kecil nilainya jika dibandingkan dengan hidayah. Hidayah jauh lebih mahal daripada dunia beserta isinya. Seseorang yang menyadari nilai hidayah akan berusaha mempertahankannya dengan sekuat tenaga melebihi usahanya dalam mengejar urusan duniawi.

Betapa jauh perbedaan antara orang yang sadar dengan mereka yang tertipu oleh kehidupan dunia. Seseorang menggadaikan keimanan demi mendapatkan dunia yang tidak seberapa. Banyak orang menggadaikan akidah dan keimanan hanya demi meraih sedikit kenikmatan dunia, seolah-olah mereka akan hidup kekal di dalamnya.

Sejatinya, nikmat terbesar adalah hidayah. Orang yang menyadari hal ini akan mempertahankan hidayahnya sampai titik darah penghabisan. Ia tidak peduli jika harus kehilangan dunia, asalkan hidayah tetap terjaga.

Seseorang yang mempertahankan hidayah pasti akan diberikan pula kenikmatan dunia oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Penduduk surga memuji Allah atas nikmat masuk ke dalam surga-Nya. Menjadi penghuni surga adalah cita-cita tertinggi seorang Muslim. Dibandingkan dengan kenikmatan duniawi, cita-cita menjadi presiden atau dokter terasa sangat rendah. Maka, ajarkanlah kepada anak-anak bahwa cita-cita tertinggi dan termulia adalah masuk ke dalam surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 28)

Diselamatkan dari kaum yang zalim merupakan nikmat yang sangat besar. Kita melihat bagaimana saudara seiman di berbagai belahan dunia menjadi korban kezaliman. Oleh karena itu, kita yang masih diberikan keamanan di negeri ini harus senantiasa bersyukur. Jika terdapat kekurangan pada pemimpin atau pemerintahan, itu adalah cerminan dari perbuatan kita sendiri. Apabila kita tidak ingin keamanan ini dicabut atau dikuasai oleh orang-orang zalim, maka bertakwalah kepada Allah. Dengan ketakwaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjaga kita.

Download MP3 Kajian Tentang Keutamaan Alhamdulillah


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56129-keutamaan-alhamdulillah/